Senin, 24 Oktober 2011

BUDIDAYA PADI

BUDIDAYA TANAMAN PANGAN (PADI)




I. IDENTITAS NARASUMBER

Narasumber yang diwawancarai merupakan petani yang menjabat sebagai sesepuh kelompok tani di kecamatan Tingkir, Salatiga. Berikut ini data pribadinya secara lengkap,

Nama lengkap : Muhammad Irfani

Nama panggilan : Irfan

Tempat dan tanggal lahir : 28 Agustus 1948

Usia : 62 tahun

Pendidikan terakhir : Sekolah Rakyat

Pekerjaan : petani padi dan petani ternak sapi perah

Alamat rumah : Canden RT 04 RW 07 Kutowinangun kec. Tingkir,

Salatiga.

Keluarga : 1 istri (pedagang) dan 4 orang anak (3 orang tamatan

SLTA dan 1 orang tamatan D3).

II. PELAKSANAAN WAWANCARA

Data yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara dan observasi langsung menuju ketempat budidaya dan dilaksanakan pada:

Hari : Sabtu, 20 November 2010

Pukul : 07.30 – 08.45 WIB

Tempat : Rumah Bapak Muhammad Irfani

Alamat : Canden RT 04 RW 07 Kutowinangun kec. Tingkir Salatiga

III. HASIL WAWANCARA

A.

Sejarah Budidaya

Awal mula perjalanan hidup Bapak Irfan sebagai seorang petani dimulai sejak beliau berumur 20 tahun tepatnya pada tahun 1968. Pada saat itu beliau diberi hibah oleh orangtuanya untuk mengerjakan sawah KPTT. Dengan berbekal prinsip bahwa dengan bertani beliau dapat menghilangkan beban pikiran (refreshing) dan sebagai hiburan sehingga sampai saat ini (42 tahun) beliau masih menekuni bidangnya tersebut dengan senang hati.

Karena ketekunan dan keuletannya dalam bekerja, Pak Irfan pernah dikursuskan oleh Pak Lurah dan sampai sekarang dianggap sebagai sesepuhnya kelompok tani kecamatan Tingkir, Salatiga. Segala metode maupun caranya dalam bercocok tanam dijadikan contoh dan ditiru oleh masyarakat sekitar. Dengan mengikuti kelompok tani dan penyuluhan, beliau merasa sangat beruntung karena dalam kelompok tersebut, beliau dapat mengetahui pemecahan masalah yang muncul dalam bercocok tanam.

Dari tahun ke tahun terjadi peningkatan luas lahan sawah yang beliau kerjakan. Luas tanah yang dihibahkan pada awalnya hanya seluas 3000 m2 kemudian berkembang menjadi 2 hektar hingga 3 hektar. Hanya saja yang 1 hektar merupakan sistem kontrak sehingga yang masih dikerjakan saat ini hanya 2 hektar saja (milik pribadi). Dari sawah seluas 2 hektar tersebut, beliau memiliki 5 petak sawah yang masing-masing dikerjakan dengan bantuan seorang pekerja.

B. Pendukung Dalam Pengembangan Budidaya

Didalam proses pengembangan budidaya pertaniannya, Pak Irfan sangat merasa didukung oleh teman-temannya yang juga menjadi pekerjanya di sawah. Hanya ada 5 orang pekerja yang beliau kerjakan tetapi apabila ketika panen, Pak Irfan menggunakan tenaga lebih dari 5 orang (sesuai kebutuhan).

C. Jenis Tanaman

Selama 42 tahun sebagai petani, beliau telah mencoba berbagai jenis tanaman untuk dibudidayakan di lahan persawahannya antara lain: padi IR, Serayu, Bengawan, Migongga, Cigelis (padi cantik) dan kacang panjang (ditanam di bagian pinggir atau pematang sawah). Kacang panjang selalu ditanam karena jangka panennya tidak terlalu lama dan dapat menjadi tambahan pemasukan dengan dijual ke pasar.

Dari kelima jenis padi tersebut (padi IR, Serayu, Migongga, Bengawan dan Cigelis), Pak Irfan sangat menyukai dengan hasil panennya. Meskipun bentuknya sama tetapi masing-masing jenis padi memiliki rasa yang lain dalam arti pulen dan lengket. Untuk tingkat kesuburan pertumbuhan tanaman padi tergantung dengan kondisi tanahnya.

Untuk saat ini, yang ditanam oleh Bapak Irfan adalah padi IR karena jenis padi ini dapat tumbuh subur atau tanahnya sesuai untuk pertumbuhannya, hasil panen lebih banyak serta rasanya yang enak (pulen). Selain padi IR, tanaman padi umbul dan migonggah adalah jenis padi yang selalu dibudidayakan oleh Pak Irfan karena ketiga padi ini memiliki ciri khas yang sama baik hasil panennya maupun kesuburan pertumbuhannya.

D. Alat dan Bahan Yang Dibutuhkan

Dalam proses pengolahan dan pengembangannya, Pak Irfan menggunakan berbagai media antara lain:

1. Bibit padi dan kacang panjang

2. Cangkul

3. Sabit

4. Traktor

5. Semprotan hama

Dalam mencari dan memperoleh berbagai jenis alat dan bahan tersebut, Pak Irfan tidak mengalami kesulitan karena semua alat tersebut dapat diperoleh dari kelompok tani.

E. Proses Pengembangan Budidaya

Dalam proses budidaya, Pak Irfan melakukan langkah-langkah sebagai berikut,

Proses pengolahan tanah:

Ø Pencangkulan

Ø Pembajakan (dahulu menggunakan sapi tetapi sekarang menggunakan traktor).

Proses pemeliharaan tanaman:

Ø Penyemaian

Ø Pembibitan

Ø Pemupukan

Pemupukan dilakukan sampai tanaman berumur setengah bulan. Jenis pupuk yang dipake adalah TS, KCl, ZA, urea.

Ø Membersihkan pematang sawah yaitu dengan mencangkul tanah di pinggiran sawah dan dinaikkan ke pematangnya untuk media penanaman kacang panjang.

Proses pemanenan:

Untuk musim hujan (kretek), pemanenan dilakukan setelah berumur 100 hari sedangkan pada musim kemarau (gadu), pemanenan dilakukan setelah berumur 110 hari.

Selain dengan melakukan proses-proses tersebut, Pak Irfan juga melakukan pola tanam “Monokultur” yaitu dalam 1 tahun, tanah persawahan hanya ditanami satu jenis tanaman saja. Serta juga melakukan pembersihan yang berkala dan penanggulangan hama.

F. Jenis Budidaya Tanaman Padi Sawah

Beberapa jenis budidaya padi sawah yang biasa diupayakan oleh masyarakat adalah sebagai berikut:

1) Sawah Irigasi

Adalah sawah yang paling tinggi tingkat produktivitasnya dimana keperluan airnya disuplai oleh irigasi teknis sehingga setiap kebutuhan air terpenuhi. Tingkat kesuburannya sangat tinggi sehingga panen dapat dilakukan tiga kali dalam satu tahun. Hal ini dapat terjadi karena tanahnya yang subur berasal dari endapan debu vulkanis, curah hujan yang tinggi serta aliran sungai yang memungkinkan bisa dibendung untuk dibuat irigasi.

2) Sawah Tadah Hujan

Merupakan sawah yang system pengairannya sangat mengandalkan curah hujan.

3) Sawah Pasang Surut atau Bencah

Adalah sawah yang terdapat di sekitar muara sungai atau rawa-rawa sekitar pantai.

4) Sawah Kambang

Padi Kambang merupakan tanaman padi yang panjang batangnya bias menyesuaikan dengan tinggi muka air pada lahan sawah. Hasil pertanian padi kambang kurang baik hanya sekitar 0,5 kali system pertanian irigasi.

5) Sawah Padi Gogo-Rancah

Merupakan system pertanian sawah dengan mengupayakan jenis padi yang pada saat pengairan cukup baik (musim hujan) menjadi padi sawah biasa tetapi jika tidak ada air maka sawah ini berubah menjadi padi gogo (huma).

G. Sistem Pengairan

Ketersediaan air untuk padi sawah irigasi sangat dipengaruhi oleh kerusakan daerah aliran sungai (DAS) dan perubahan iklim global. Ada 3 macam teknik irigasi yang umum diterapkan di daerah atau wilayah irigasi skala kecil, skala sedang dan skala luas antara lain:

· Irigasi Tergenang Mengalir (continuous flooding-flowing)

Air dialirkan dari petak ke petak sampai seluruh petakan tergenang. Pada sistem irigasi Jatiluhur yang terletak di dataran pantai dan dataran banjir meander masih menerapkan teknik ini sedangkan sistem irigasi nonteknis (irigasi sederhana atau pedesaan), air yang dialirkan tidak terukur dan terencana.

· Irigasi Tergenang Diam (continuous flooding-stagnant)

Air disalurkan ke unit hamparan golongan tanam sampai seluruh petakan pertanaman tergenang kemudian dihentikan. Selanjutnya air disalurkan ke unit hamparan lain sampai seluruh daerah atau wilayah terairi. Debit air terukur dan terencana.

· Irigasi berselang tidak teratur (intermittent)

Air dialirkan ke seluruh hamparan. Aliran air berhenti kalau hujan di daerah tangkapan juga berhenti.

Dalam sistem pertanian yang dibudidayakan oleh Bapak Irfan, menggunakan sistem irigasi tergenang mengalir non teknis.

H. Teknik Penanaman

Teknik penanaman padi meliputi persemaian, pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, penyiangan, pengendalian dan pemberantasan hama dan penyakit serta panen.

1) Persemaian

Persemaian dilakukan 25 hari sebelum masa tanam, persemaian dilakukan pada lahan yang sama atau berdekatan dengan petakan sawah yang akan ditanami, hal ini dilakukan agar bibit yang sudah siap dipindah, waktu dicabut dan akan ditanam mudah diangkut dan tetap segar. Bila lokasi jauh maka bibit yang diangkut dapat stress bahkan jika terlalu lama menunggu akan mati (Anonima, 2008).

Benih yang dibutuhkan untuk ditanam pada lahan seluas 1 ha sebanyak 20 Kg. Benih yang hendak disemai sebelumnya harus direndam terlebih dahulu secara sempurna sekitar 2 x 24 jam, dalam ember atau wadah lainnya. Hal ini dilakukan agar benih dapat mengisap air yang dibutuhkan untuk perkecambahannya (Anonima, 2008).

Bedengan persemaian dibuat seluas 100 m2/20 Kg. lahan untuk persemaian ini sebelumnya harus diolah terlebih dahulu, pengolahan lahan untuk persemaian ini dilakukan dengan cara pencangkulan hingga tanah menjadi lumpur dan tidak lagi terdapat bongkahan tanah. Lahan yang sudah halus lumpurnya ini kemudian dipetak-petak dan antara petak-petak tersebut dibuat parit untuk mempernudah pengaturan air (Anonima, 2008).

Benih yang sudah direndam selama 2 x 24 jam dan sudah berkecambah ditebar dipersemaian secara hati-hati dan merata, hal ini didimaksudkan agar benih yang tumbuh tidak saling bertumpukan. Selain itu benih juga tidak harus terbenam kedalam tanah karena dapat menyebabkan kecambah terinfeksi pathogen (penyebab penyakit tanaman) yang dapat menyebabkan busuknya kecambah. Pemupukan lahan persemaian dilakukan kira-kira pada umur satu minggu benih setelah ditanam (tabur). Kebutuhan pupuk yang digunakan yaitu, 2,5 Kg Urea, 2,5 Kg SP36 dan 1 Kg KCL (Anonima, 2008).

2) Pengolahan Tanah

Pengolahan bertujuan untuk mengubah sifat fisik tanah agar lapisan yang semula keras menjadi datar dan melumpur. Dengan begitu gulma akan mati dan membusuk menjadi humus, aerasi tanah menjadi lebih baik, lapisan bawah tanah menjadi jenuh air sehingga dapat menghemat air. Pada pengolahan tanah sawah ini, dilakukan juga perbaikan dan pengaturan pematang sawah serta selokan. Pematang (galengan) sawah diupayakan agar tetap baik untuk mempermudah pengaturan irigasi sehingga tidak boros air dan mempermudah perawatan tanaman. Tahapan pengolahan tanah sawah pada prinsipnya mencakup kegiatan–kegiatan sebagai berikut:

a. Pembersihan

Galengan sawah dibersihkan dari rerumputan, diperbaiki, dan dibuat agak tinggi. Fungsi utama galengan disaat awal untuk menahan air selama pengolahan tanah agar tidak mengalir keluar petakan. Fungsi selanjutnya berkaitan erat dengan pengaturan kebutuhan air selama ada tanaman padi (Anonimb, 2008).

Saluran atau parit diperbaiki dan dibersihkan dari rerumputan. Kegiatan tersebut bertujuan agar dapat memperlancar arus air serta menekan jumlah biji gulma yang terbawa masuk ke dalam petakan. Sisa jerami dan sisa tanaman pada bidang olah dibersihkan sebelum tanah diolah (Anonimb, 2008).

Jerami tersebut dapat dibakar atau diangkut ke tempat lain untuk pakan ternak, kompos, atau bahan bakar. Pembersihan sisa–sisa tanaman dapat dikerjakan dengan tangan dan cangkul (Anonimb, 2008).

b. Pencangkulan

Setelah dilakukan perbaikan galengan dan saluran, tahap berikutnya adalah pencangkulan. Sudut–sudut petakan dicangkul untuk memperlancar pekerjaan bajak atau traktor. Pekerjaan tersebut dilaksanakan bersamaan dengan saat pengolahan tanah (Anonimb, 2008).

c. Pembajakan

Pembajakan dan penggaruan merupakan kegiatan yang berkaitan. Kedua kegiatan tersebut bertujuan agar tanah sawah melumpur dan siap ditanami padi. Pengolahan tanah dilakukan dengan dengan menggunakan mesin traktor. Sebelum dibajak, tanah sawah digenangi air agar gembur. Lama penggenangan sawah dipengaruhi oleh kondisi tanah dan persiapan tanam. Pembajakan biasanya dilakukan dua kali. Dengan pembajakan ini diharapkan gumpalan–gumpalan tanah terpecah menjadi kecil–kecil. Gumpalan tanah tersebut kemudian dihancurkan dengan garu sehingga menjadi lumpur halus yang rata. Keuntungan tanah yang telah diolah tersebut yaitu air irigasi dapat merata. Pada petakan sawah yang lebar, perlu dibuatkan bedengan–bedengan. Antara bedengan satu dengan bedeng lainnya berupa saluran kecil. Ujung saluran bertemu dengan parit kecil di tepi galengan yang berguna untuk memperlancar air irigasi. (Anonimb, 2008).

3) Pelaksanaan Tanam

Setelah persiapan lahan beres maka bibit pun siap ditanam. Bibit biasanya dipindah saat umur 20–25 hari. Ciri bibit yang siap dipindah ialah berdaun 5-6 helai, tinggi 22-25 cm, batang bawah besar dan keras, bebas dari hama dan penyakit sehingga pertumbuhannya seragam.

Bibit ditanam dengan cara dipindah dari bedengan persemaian ke petakan sawah, dengan cara bibit dicabut dari bedengan persemaian dengan menjaga agar bagian akarnya terbawa semua dan tidak rusak. Setelah itu bibit dikumpulkan dalam ikatan-ikatan lalu ditaruh disawah dengan sebagian akar terbenam ke air. Bibit ditanam dengan posisi tegak dan dalam satu lubang ditanam 2-3 bibit, dengan kedalaman tanam cukup 2 cm, karena jika kurang dari 2 cm bibit akan gampang hanyut. Jarak tanam padi biasanya 20 x 20 cm (Anonima, 2008).

4) Pemupukan

Tanah yang dibudidayakan cenderung kekurangan unsur hara bagi tanaman, oleh karena itu diperlukan penambahan unsur hara yang berasal dari pupuk organik maupun pupuk anorganik. Dosis pupuk tanaman padi sawah sangat dipengaruhi oleh jenis dan tingkat kesuburan tanah, sejarah pemupukan yang diberikan dan jenis padi yang ditanam (Anonima, 2008).

Penggunaan dosis pupuk untuk padi sawah untuk lahan satu hektar adalah sebagai berikut Urea 200 Kg, SP36 200 Kg, dan KCL 100 Kg. Pemupukan dilakukan dua kali dalam satu kali budidaya (produksi) padi sawah. Pemupukan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 12 hari dengan dosis pupuk sepertiga dari kebutuhan pupuk keseluruhan, sedangkan sisa pupuk diberikan pada tahap kedua yaitu kira-kira pada waktu tanaman berumur 40 hari (Anonima, 2008).

5) Penyiangan (pengendalian gulma)

Perawatan dan pemelihraan tanaman sangat penting dalam pelaksanaan budidaya padi sawah. Hal-hal yang sering dilakukan oleh para petani adalah penyiangan (pengendalian gulma).

Gulma merupakan tumbuhan pengganggu yang hidup bersama tanaman yang dibudidayakan. Penyiangan dilakukan 2 tahap, tahap pertama penyiangan dilakukan pada saat umur tanaman kurang lebih 15 hari dan tahap kedua pada saat umur tanaman berumur 30-35 hari. Penyiangan yang dilakukan adalah dengan cara mencabut gulma dan dimatikan dengan atau tanpa menggunakan alat, biasanya penyiangan ini dilakukan bersamaan dengan dengan kegiatan penyulaman (Anonimc, 2008).

6) Penyemprotan

Hama yang sering ditemukan menyerang tanaman padi sawah adalah penggerek batang padi, walang sangit, wereng dan belalang. Pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan para petani adalah dengan menggunakan pestisida untuk lahan seluas satu hektar petani hanya membutuhkan 2 orang tenaga kerja dan dalam waktu satu hari pemyemprotan tersebut dapat diselesaikan (Anonimc, 2008).

7) Panen

Hasil padi yang berkualitas tidak hanya diperoleh dari penanganan budi daya yang baik saja, tetapi juga didukung oleh penanganan panennya. Waktu panen padi yang tepat yaitu jika gabah telah tua atau matang. Waktu panen tersebut berpengaruh terhadap jumlah produksi, mutu gabah, dan mutu beras yang akan dihasilkan. Keterlambatan panen menyebabkan produksi menurun karena gabah banyak yang rontok. Waktu panen yang terlalu awal menyebabkan mutu gabah rendah, banyak beras yang pecah saat digiling, berbutir hijau, serta berbutir kapur (Anonim. 2008)

Panen padi untuk konsumsi biasanya dilakukan pada saat masak optimal. Adapun panen padi untuk benih memerlukan tambahan waktu agar pembentukan embrio
gabah sempurna .

Saat panen di lapangan dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti tinggi tempat, musim tanam, pemeliharaan, pemupukan, dan varietas. Pada musim kemarau, tanaman biasanya dapat dipanen lebih awal. Jika dipupuk dengan nitrogen dosis tinggi, tanaman cenderung dapat dipanen lebih lama dari biasa. Panen yang baik dilakukan pada saat cuaca terang. Secara umum, padi dapat di panen pada umur antara 110–115 hari setelah tanam.
Kriteria tanaman padi yang siap dipanen adalah sebagai berikut :

- Umur tanaman tersebut telah mencapai umur yang tertera pada deskripsi varietas tersebut.

- Daun bendera dan 90% bulir padi telah menguning.

- Malai padi menunduk karena menopang bulir-bulir yang bernas.

- Butir gabah terasa keras bila ditekan.Apabila dikupas, tampak isi butir gabah berwarna putih dan keras bila di gigit.Biasanya gabah tersebut memiliki kadar air 22-25%.

I. Penanganan Pasca Panen

Penanganan pasca panen padi meliputi beberapa tahap kegiatan yaitu penentuan saat panen, pemanenan, penumpukan sementara di lahan sawah, pengumpulan padi di tempat perontokan, penundaan perontokan, perontokan, pengangkutan gabah ke rumah petani, pengeringan gabah, pengemasan dan penyimpanan gabah, penggilingan, pengemasan dan penyimpanan beras.

a. Penentuan saat panen, dilakukan berdasarkan:

- Pengamatan visual, umur panen optimal padi dicapai apabila 90 sampai 95 % butir gabah pada malai padi sudah berwarna kuning atau kuning keemasan.

- Pengamatan teoritis dilakukan dengan melihat deskripsi varietas padi dan mengukur kadar air dengan moisture tester. Berdasarkan deskripsi varietas padi, umur panen padi yang tepat adalah 30 sampai 35 hari setelah berbunga merata atau antara 135 sampai 145 hari setelah tanam. Berdasarkan kadar air, umur panen optimum dicapai setelah kadar air gabah mencapai 22 – 23 % pada musim kemarau, dan antara 24 – 26 % pada musim penghujan.

Narasumber menyatakan pada jenis varietas IR yang ditanam, pemanenan dilakukan pada umur padi 100 hari pada musim penghujan dan 110 hari pada musim kemarau.

b. Pemanenan

Alat dan mesin pemanenan yang bisa digunakan adalah:

1. Ani-ani

2. Sabit




3. Reaper

4. Reaper Binder




Peralatan pemanenan yang digunakan narasumber adalah sabit, jadi masih konvensional, serta pemanenan biasanya dilakukan secara berkelompok sampai dengan 5 orang.

c. Penumpukan dan Perontokan

Setelah pemanenan padi ditumpuk dan dikumpulkan untuk selanjutkan dilakukan perontokan. Perontokan bisa dilakukan dengan beberapa alat yaitu:

1. Perontokan dengan cara digebot




2. Perontokan dengan pedal thresher

3. Perontokan dengan power thresher

d. Pengeringan gabah

Pengeringan adalan proses penurunan kadar air gabah sampai nilai tertenu sehingga siap diolah/digiling atau agar aman untuk disimpan dalam waktu yang lama. Pengeringan dilakukan dengan penjemuran di bawah sinar matahari atau dengan pengering buatan.

1) Penjemuran (dengan lantai jemur atau di atas alas)

Narasumber masih melakukan pengeringan tradisional dengan penjemuran ini.

2) Penjemuran dengan pengering buatan (flat bed dryer)

e. Pengemasan dan penyimpanan gabah

Penyimpanan gabah dilakukan untuk mempertahankan gabah agar tetap dalam keadaan baik dalam jangka waktu tertentu. Caar penyimpanan yang selama ini dikenal adalah menggunakan kemasan/wadah seperti karung plastic, karung goni dalam ruangan atau bahkan bangunan khusus (lumbung).

f. Penggilingan

Penggilingan adalah proses pengupasan gabah menjadi beras yang meliputi pengupasan sekam, pemisahan gabah, penyosohan, pengemasan dan penyimpanan.

Mesin Pengupas Kulit Gabah

Mesin Penyosoh

g. Pengemasan dan penyimpanan beras

Beras hasil penggilingan bisa disimpan sementara atau dijual/didistribusikan.

J. Tingkat Kesuburan Lahan Pertanian

Untuk mengukur pH, kelembaban, intensitas cahaya matahari dan fertilitas tanah menggunakan alat “Electronic 4-Way Analyzer” berikut ini,

Hasil pengukuran:

pH : 6,8 (asam cenderung netral)

intensitas cahaya : 6,3 x 1000 (tinggi)

kelembaban : 3,5 (lembab)

fertilitas : ideal

K Kendala/Hambatan

Selama ini kadang terjadi pertumbuhan padi yang kurang subur. Hal ini diperngaruhi oleh beberapa faktor antara lain:

· Penyakit karena cuaca yang dingin (kurangnya sinar cahaya matahari) dengan contoh penyakitnya yaitu:

1) Lodoh (busuk akar)

Yang diserang adalah bagian akar.

2) Slendep

Tanaman mampu menghasilkan anakan sehingga tumbuhnya melebar tetapi tidak dapat tumbuh tinggi. Tanaman yang terkena penyakit ini tidak dapat dipanen.

3) Menthek

Tanaman mampu menghasilkan anakan dan dapat tumbuh tinggi tetapi daunnya berwarna kuning dan merah. Meskipun terserang penyakit ini, tanaman tetap dapat dipanen.

· Hama

· Kurangnya perhitungan dalam penanaman.

Untuk kendala dan hambatan yang dihadapi selama ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain:

ü Nilai tukar hasil pertanian tidak seimbang dengan harga kebutuhan dan ongkos pengerjaan.

ü Ongkos tenaga besar.

ü Langkanya generasi petani dikarenakan dengan adanya kemajuan jaman masyarakat lebih baik bekerja menjadi buruh pabrik yang gajinya lebih besar daripada menjadi petani.

ü Petani merasa was-was karena saat ini dibangun jalan tol disekitar lahan persawahannya. Mereka takut 2 tahun kedepan lahan mereka akan berubah menjadi gedung dan perumahan. Selain itu pasti akan memberikan dampak polusi yang besar untuk lahan pertanian mereka.

ü Terjadinya polusi air yang disebabkan oleh pencemaran limbah rumahtangga maupun limbah pasar yang dibuang kedalam parit irigasi. Sampai saat ini pemecahan masalah pencemaran limbah belum dapat diatasi dengan baik karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan.

L. Pengaruh Iklim Terhadap Proses Budidaya

Untuk perubahan iklim yang terjadi selama ini tidak pernah mempengaruhi proses budidaya karena jumlah debit air cukup melimpah sehingga baik ketika musim penghujan maupun kemaraupun tetap tersedia air yang banyak. Hanya saja terdapat perbedaan tingkat pemanenannya yaitu Untuk musim hujan (kretek), pemanenan dilakukan setelah berumur 100 hari sedangkan pada musim kemarau (gadu), pemanenan dilakukan setelah berumur 110 hari.

M. Jenis Hama dan Cara Penanggulangannya

Hama yang menjadi pengganggu dalam proses budidaya antara lain tikus, walang sangit dan burung emprit. Adapun cara pemberantasannya sebagai berikut:

· Hama tikus

Dengan cara membersihkan galengan atau lubang-lubang di sawah serta membakarnya.

· Walang sangit

Dengan cara disemprot dengan menggunakan obat hama “Matador”.

N. Perolehan hasil panen

Untuk perolehan dan peningkatan hasil panen, dari tahun ke tahun, panen padi tetap stabil dengan perincian sebagai berikut:

- Musim kemarau = 7 – 8 ton

- Musim kretek (penghujan) = 5 – 6 ton

- Musim tak menentu = 4 – 5 ton

Dilihat dari hasil panennya, jaman sekarang keuntungan yang diperoleh lebih dapat dihitung dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dibandingkan dengan jaman dulu. Kadang terjadi ketidak seimbangan antara hasil panen dengan modal yang dikeluarkan, tenaga pengerjaan yang semakin bertambah besar dan banyak serta tuntutan biaya hidup yang membengkak.

IV. KESIMPULAN

Kesan dan Harapan

Dengan pengalaman selama ini, banyak hal yang dirasakan oleh Bapak Irfan yaitu remen (seneng), lebih sabar dan punya harapan lebih baik. Adapun hal yang menjadi harapan Pak Irfan yaitu semoga ada anaknya yang bisa meneruskan keahlian Bapak Irfani dan agar ada kaum muda yang menjadi penerus petani serta agar penghasilan petani seimbang dengan harga kebutuhan hidup. Dengan demikian hidup petani dapat layak dan sejahtera.

V. DAFTAR PUSTAKA

http://eone87.wordpress.com/2009/11/25/budi-daya-padi-sawah/

http://pphp.deptan.go.id/xplore/view.php?file=PASCA-PANEN

http://www.litbang.deptan.go.id/special/padi/bbpadi_2009_itkp_09.pdf

http://file.upi.edu/Direktori/B%2020FPIPS/JUR.%20PEND.%20GEOGRAFI/

TUGAS

BUDIDAYA TANAMAN PANGAN

(PADI)

Disusun oleh:

THEO TRINITA 091434034

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2010



1 komentar: